PEJUANG DAN SAMPAH MASYARAKAT Bag.1

0
7

PEJUANG DAN SAMPAH MASYARAKAT

(Bagian: 1)

Oleh: Ngar Ghibran

 

Masa depan bangsa tidak pernah ditentukan seberapa megah istana presiden atau seberapa keras palu hakim diketukkan. Masa depan suatu negeri sepenuhnya berada di tangan KARAKTER KOLEKTIF RAKYATNYA.

Sejarah peradaban dunia telah berulang kali membuktikan bahwa bangsa-bangsa besar lahir dari masyarakat yang memiliki literasi kritis, keberanian moral, dan konsistensi dalam melawan ketidakadilan atau kezaliman penguasa.

Sebaliknya, kehancuran sebuah negara sering kali bukan karena kekuatan musuh dari luar, melainkan karena pembusukan dari dalam, yakni kombinasi antara penguasa yang zalim korup dan rakyat yang bermental badut sok kritis yakni pendukung kezaliman yang biasa disebut sampah masyarakat.

Dalam dinamika sosial kita bisa memetakan sosiologi masyarakat ke dalam beberapa faksi mentalitas yang menentukan ke mana arah bangsa ini akan bermuara.

 

ANATOMI MENTALITAS RAKYAT

Secara garis besar, wajah masyarakat kita terbelah menjadi empat golongan utama ialah:

  1. Kelompok Kritis – Ideologis:

Mereka adalah motor penggerak perubahan. Kelompok ini memiliki kesadaran politik yang tinggi, mampu membaca data secara akurat, dan menolak tunduk pada narasi tunggal penguasa. Mereka bergerak atas dasar prinsip keadilan bagi seluruh elemen bangsa.

2. Kelompok Masa Bodoh (Apatis).

Kelompok ini memilih menutup mata terhadap realitas sosial. Dengan prinsip siapa pun pemimpinnya, saya tetap begini, mereka tak peduli terhadap kebijakan publik yang buruk: (seperti kenaikan pajak, pelemahan hukum, dan hal-hal negatif yang berdampak pada masa depan bangsa). Sikap apatis ini adalah bahan bakar terbaik bagi kelanggengan rezim korup yang sewenang-wenang.

3. Kelompok Awam yang Dimanipulasi

Kelompok ini mudah terjebak dalam pusaran hoaks, politik uang, dan populisme kosmetik. Mereka tidak memiliki instrumen literasi yang cukup untuk membedakan mana kebijakan yang benar-benar mensejahterakan rakyat, dan mana yang sekadar pencitraan politik jangka pendek.

4. Kelompok Loyalis Transaksional.

Mereka ini adalah kelompok yang paling berbahaya bagi demokrasi, keadilan dan kebenaran. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui dan menyadari bahwa suatu kebijakan salah, tetapi mereka tetap memilih menjadi pelindung kezaliman. Mereka ini adalah badut kekuasaan atau sampah masyarakat. Motivasi mereka jelas insentif ekonomi dan jabatan. Contoh: buzzer, loyalis, oportunis, kroni, dan penjilat rezim dinasti Jokowi.

 

Pejuang Sejati vs Badut Sok Kritis.

Ujian sejati dari integritas seseorang bukanlah saat mereka melakukan aksi demo berteriak tentang kebenaran, keadilan dan demokrasi di jalanan maupun di mana pun. Ujian sesungguhnya adalah ketika mereka dihadapkan pada Tawaran Jabatan, Fasilitas, dan Kemewahan oleh lingkar kekuasaan. Di titik inilah tirai pertunjukan terbuka, memisahkan secara tegas antara pejuang kemanusiaan dan badut oportunis atau sampah masyarakat.

Pejuang Sejati

Tetap menyuarakan kebenaran dan mengkritik kebijakan yang salah secara konsisten. Karakter kritiknya tidak berubah, baik saat berada di luar birokrasi maupun ketika diberi amanah di dalam sistem. Kebenaran adalah kompas utamanya.

Badut Sok Kritis:

Narasinya berubah total 180 derajat begitu menyentuh kursi kekuasaan. Mereka mendadak menjadi pendiam, defensif, ahli mencari pembenaran, atau bahkan berbalik arah menyerang rekan-rekan seperjuangannya terdahulu dengan tuduhan anti pembangunan atau ditunggangi kepentingan luar.

 

Pejuang Sejati:

Bergerak demi kesejahteraan rakyat, supremasi hukum yang adil, serta perbaikan sistemik berjangka panjang. Mereka tidak peduli apakah nama mereka dipuji atau dibenci oleh penguasa, selama hak rakyat terpenuhi.

Badut Sok Kritis.

Menggunakan kritik sebagai panggung popularitas dan alat posisi tawar (bargaining power). Kritik pedas mereka tak lebih dari sekadar proposal terselubung atau kode agar keberadaan mereka diperhitungkan oleh penguasa dan segera diberi jabatan.

 

Kritik Demi Jabatan

Fenomena bungkamnya para mantan aktivis atau tokoh yang dulunya vokal setelah mendapat jatah jabatan birokrasi mendadak diam, ini adalah bentuk tragikomedi politik yang paling telanjang.

Ketika kritikus mendadak fasih membenarkan kebijakan yang dulu dikutuk. Mereka telah kehilangan hak moralnya untuk disebut sebagai pejuang. Mereka berubah menjadi pelayan status quo dan layak disebut badut oportunis atau sampah masyarakat. Sang badut ini berbalik membujuk rakyat untuk menyerah dengan dalih demi kemajuan bangsa dan negara.

Karakter instan seperti ini membuktikan bahwa kritik yang mereka lontarkan selama ini bukanlah ekspresi dari rasa cinta pada keadilan, melainkan kode keras atau proposal terselubung agar keberadaan mereka diperhitungkan oleh penguasa.

 

POTRET PEMBALIKAN SIKAP

Realitas politik kontemporer menyuguhkan tontonan vulgar tentang bagaimana integritas runtuh di hadapan kekuasaan. Pola ini terlihat jelas ketika kita mengamati pergeseran drastis para tokoh publik yang dulunya membangun reputasi atas dasar kritik tajam, namun berakhir menjadi benteng pertahanan rezim yang dulu mereka kuliti.

 

Konsesi Kekuasaan

Kita menyaksikan deretan figur termasuk aktivis mahasiswa, politisi lintas partai, hingga pegiat media sosial yang pada era awal rezim Jokowi berdiri di garis depan melawan segala bentuk sentralisasi kekuasaan dan nepotisme. Namun, seiring dengan dibukanya ruang akomodasi politik di lingkar kekuasaan sikap kritis tersebut menguap tanpa bekas. Ketika kekuasaan beralih dan dinasti politik Jokowi meluas lewat Gibran, para mantan penyuara moral ini justru pembela paling gigih.

 

Pembelaan Kesalahan

Tragedi moral paling mendalam terjadi dalam menyikapi persoalan mendasar seperti validitas syarat administratif terkait keabsahan ijazah bagi integritas kepemimpinan, namun, alih-alih menuntut transparansi demi kebenaran, para sampah ini malah membela yang cacat.

Sikap ini mempertontonkan degradasi moral yang paling buruk. Mereka tak ubahnya seperti benteng penjilat yang tak memiliki rasa malu.

 

Kesimpulan

Negara ini tidak akan berubah menjadi lebih baik hanya dengan mengutuk kezaliman, ataupun dengan memelihara sikap apatis yang melumpuhkan. Perubahan besar membutuhkan formasi rakyat yang tidak hanya cerdas dan kritis secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral.

Sejarah akan mencatat dengan tinta emas mereka yang konsisten berdiri di garis batas kebenaran demi kepentingan rakyat. Sebaliknya, sejarah juga akan membuang para badut oportunis ke keranjang sampah peradaban sebagai para pengkhianat gerakan sosial yang menukar penderitaan rakyat demi kilau sesaat kekuasaan.

Pilihan untuk membawa negeri ini menuju kejayaan atau kehancuran, pada akhirnya, kembali kepada mentalitas masing-masing dari kita sebagai rakyat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini