Pemimpin Plonga-Plono Tak Berkompetensi Layaknya Pemimpin

0
8

Pemimpin Plonga-Plono

Tak  Berkompetensi Layaknya Pemimpin

 Oleh : Ngar

 

Di tengah badai krisis global yang menuntut ketajaman visi dan kecepatan maupun ketegasan eksekusi tanpa kompromi, Panggung politik di negeri ini justru menyajikan sosok pemimpin yang memilukan. Ruang kepemimpinan nasional kini disesaki oleh sosok-sosok yang acap kali diidenfikasi sebagai figur yang minim gagasan dan kikuk dalam dialektika. Publik sedang menyaksikan keruntuhan mendasar pada esensi kekuasaan: memimpin tidak lagi dilihat sebagai ajang pembuktian kapasitas intelektual, melainkan sekadar panggung sandiwarayang miskin substansi.

Ini bukan lagi masalah pembawaan personal atau gaya komunikasi yang kasual (santai). Ini adalah krisis kompetensi yang berakar dari gaya pragmatism politik yang murahan. Seorang pemimpin sejati lahir dari tempaan dialektika, uji nyali gagasan, dan keberanian untuk berdiri diatas panggung perdebatan. Sayangnya, yang kita saksikan adalah figur-figur yang alergi terhadap kompetisi adu argument, menghindari bedah visi-misi yang mendalam, dan lebih gemar berlindung di balik benteng populisme kosmetik. Ketika seorang calon penguasa sengaja menghindari ruang kompetisi yang setara, publik berhak melayangkan vonis mutlak, bahwa mereka tidak bersiap atau tidak punya kapasitas untuk memimpin, melainkan sedang bersiap untuk disetir sebagai boneka.

Makelar Politik  Demi Saham Oligargi

Anamoli ini bukan kecelakan sejarah, melainkan kejahatan sistemis yang dipelihara oleh partai politik. Parpol telah merosot kastanya menjadi organisasi makelar kekuasaan. Mereka secara sadar membuang prinsip meritokrasi, mengubur rekam jejak, dan meludahi integritas. Nilai seorang pemimpin tidak diukur dari isi kepala, melainkan dari tebalnya logistik dan seberapa patuh mereka pada kehendak cukong modal.

Sistem rekrutmsn yang busuk ini melahirkan barisan pemimpin karbitan yang linglung dan lumpuh saat dihadapkan pada rumitnya tata kelola negara. Karena tidak dibekali konsep pembangunan yang jelas, mereka mengompensasi kelemahan tersebut dengan manuver politik bawah meja, mobilisasi aparat secara lancung, dan percepatan politik dinasti yang vulgar. Dalam ekosistem yang busuk ini, kecerdasan sengaja dimutilasi agar kaum plonga plongo/semenjana (mediocrity) bisa langgeng bertakhta tanpa pernah merasa terancam kritik.

Partai politik telah mereduksi fungsi luhurnya menjadi sekadar makelar kekuasaan. Mereka secara sadar mengabaikan rekrutmen berbasis kompetensi, integritas, dan rekam jejak, yang teruji. Yang mereka buru adalah figur dengan tingkat elektabilitas instan yang bisa dibeli melalui infus modal raksasa.

Hasilnya adalah lahirnya para pemimpin karbitan yang gagap saat dihadapkan pada realitas tata kelola negara yang kompleks. Mereka tidak memiliki fondasi kepemimpinan transformasional maupun visi strategis. Alih-alih menjadikan program kerja sebagai alat kompetisi yang sehat, mereka menggunakan manuver politik di bawah meja, mobilisasi aparat secara senyap, hingga percepatan politik dinasti untuk melanggengkan kekuasaan yang sebenarnya tidak layak mereka sandang. Dalam ekosistem yang korup ini, meritokrasi sengaja dibunuh agar para mediocrity (kaum semenjana) bisa bertahta.

Menjual Kebodohan Sebagai Kesederhanaan

Pertanyaan yang berulang dan sering muncul adalah: mengapa rakyat tetap memilih pemimpin yang jelas-jelas tidak kompeten, dan mengapa pula kondisi demikian ini terus berulang kali, bahkan dinormalisasi? Jawabnya bukan pada kebodohan alami pemilih, melainkan terletak pada keberhasilan pabrik pencitraan yang dikerjakan oleh mesin propaganda penguasa dalam melakukan rekayasa psikologi masal. Melalui operasi media yang struktur, ketidakmampuan beragumen dan ekspresi kebingungan (plonga-plongo) dimanipulasi atau di branding secara masif  sebagai simbol kejujuran, ketulusan dan karakter anti elit. Ini adalah pembodohan publik yang tersetruktur.

Narasi populis yang beracun sengaja diciptakan ke sanubari massa untuk membenturkan figur yang tampak polos dan dungu dengan kaum intelektual yang dicap pintar tetapi licik. Hasilnya adalah terjadi ledakan anti intelektualisme dimana kecerdasan, ketajaman analisis, dan kelancaran betbicara atau artikulasi gagasan di atas panggung debat publik justru dinilai negatif, dan dikriminilasi secara opini sebagai wujud keangkuhan. Rakyat dijebak dan digiring untuk merasa nyaman dan bangga memiliki pemimpin yang sama bingungnya dengan mereka. Sebuah kepuasan semu yang merusak dan menghancurkan nalar kritis bangsa dalam menilai kelayakan seorang nakhoda Negara.

.

Polotik Gentong Babi

Pendangkalan nalar pemilih ini diperparah oleh dua instrument utama yakni, tekanan ekonomi struktural dan manipulasi ruang digital. Di tengah kemiskinan yang sengaja dipelihara, politik gentong babi (pork barrel politics) menjadi senjata paling mematikan. Kebijakan karitatif jangka pendek-seperti pembagian bantuan sosial (bansos) yang ugal-ugalan menjelang pemilu, bagi-bagi sembako di jalanan, dan instensif tunai langsung-efektif mengunci pilihan politik masyarakat rentan. Rakyat dipaksa bersikap pragmatis: memilih jaminan isi perut hari ini ketimbang visi makro pembangunan untuk dua dekade ke deapan.

Di saat yang sama, tsunami informasi di media social sengaja dirancang untuk mendegradasi logika publik. Ruang digital dibanjiri oleh konten-konten dangkal yang diproduksi secara industri oleh pasukan siber (buzzers) dan influencer sewaan. Diskusi substansial mengenai utang luar negeri, kerusakan ekologi, atau degradasi hukum ditenggelamkan oleh potongan video joget politik, meme jenaka, dan drama kehidupan pribadi yang menghibur. Pemilu tidak lagi menjadi festifal adu gagasan, melainkan karnaval hiburn murah yang menjinakkan daya kritis massa.

Desain Politik Kepentingan

Rakyat harus berani menelanjangi kenyatan pahit bahwa pemimpinlemah secara kompetensi bukanlah sebuah kecelakaan sejarah, melainkan desain politik yang disengaja oleh para pemegang saham kekuasaan (power brokers). Bagi para oligarki ekonomi dan elit politik, pemimpinyang yang kurang cakap dan minim integritas adalah aset terbaik, sedangkan pemimpin yang terlalu pintar adalah ancaman nyanta.

Pemimpin yang cerdas, visioner, dan beintegritas memiliki kecenderungan untuk sulit disetir, berani menolak dekti yang merugikan negara, dan berpotensi mengacaukan lingkaran korupsi sistemik. Sebaliknya, pemimpin yang plonga-plongo akan selalu membutuhlan “pembisik” ditelingganya dan tameng politik dari partai pendukung untuk menjaga kursinya tetap tegak.

Ketergantungan mutlak inilah yang dipelihara. Di balik topeng kepolosan sang pemimpin, para oligarki bebas mendikte pembuatan undang-undang, menguras sumber daya alam melalui regulasi yang longgar, membagi-bagi jabatan strategis, dan membangun dinasti politik keluarga tanpa takut diintervensi. Sang pemimpin hanyalah bumper visual yang bertugas tersenyum di depan kamera, sementara penjarahan negara terjadi di ruang-ruang gelap di belakangnya.

Bahaya Inkompetensi dan Matinya Kritik

Dampak dari pembiaran ini sangat destruktif. Ketika pucuk pimpinan diisi oleh mereka yang enggan berkompetensi secara sehat, inkompentensi tersebut merembes secara struktural hingga ke urat nadi birokrasi paling bawah. Ketidakmampuan mengambil keputusan strategis di tengah krisis ekonomi global akan menciptakan atmosfer kebijakan yang penuh ketidakpastian, tumpang tindih, dan mandul eksekusi.

Lebih jauh lagi, pemimpin yang sadar akan kelemahan intelektualnya biasanya memiliki ketakutan luar biasa terhadap kritik. Karena tidak mampu membalas kritik dengan argument data, mereka memilih menggunakan instrumen kekuasaan untuk membungkamnya. Lembaga hokum dikooptasi untuk menekan suara sumbang, oposisi dijinakkan dengan tawaran kursi kekuasaan, dan para pemikir kritis dikriminalisasi. Birokrasi berubah menjadi mesin yang kaku, dihuni oleh para pejilat yang hanya berorientasi menyenangkan atasan alih-alih melakukan inovasi demi rakyat.

Mengakhiri Gimik Politik

Rakyat tidak boleh membiarkan negara ini terus berjalan menuju tepi jurang kehancuran moral dan struktural. Saatnya rakyat menghentikan toleransi terhadap kebodohan yang dipoles seolah-olah kesederhanaan. Kepemimpinan adalah amanah rakyat yang teramat sakral, menuntut akuntabilitas penuh, dan tidak boleh dijadikan tempat perlindungan bagi mereka yang miskin gagasan.

Rakyat harus merebut kembali marwah kompetisi sebagai saringan utama dalam memilih pemimpin. Setiap calon yang berminat menduduki jabatan publik harus dipaksa kaluar dari zona nyaman pencitraan mereka. Mereka harus diseret ke arena debat yang keras dan transparan, ditantang untuk memaparkan solusi konkret atas krisis ekonomi, degradasi penegakan hukum, dan ketimpangan sosial yang mikin menganga. Publik harus bertransformasi menjadi juri yang kejam terhadap segala bentuk inkompetensi, Sudah saatnya rakyat menyudahi era gimik politik ini.

Kepemimpinan adalah soal kapasitas moral dan intelektual untuk membawa perubahan, bukan panggung sandiwara politik, di mana singgasana kekuasaan diduki olek aktor yang salah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini