Asal usul nama kota boyolali

0
8

Asal usul nama kota boyolali

BOYOLALI — Siapa sangka nama daerah yang kini dikenal sebagai “Kota Susu” ini lahir bukan dari pertempuran besar, melainkan dari sebuah kalimat sederhana yang terucap di tepi sungai, ratusan tahun silam.

Menurut catatan sejarah yang dihimpun dari Serat Babad Pengging dan Serat Mataram, nama Boyolali belum dikenal pada masa Kerajaan Demak maupun Kerajaan Pengging. Nama itu muncul pada abad ke-16, terkait perjalanan seorang tokoh penting: Ki Ageng Pandan Arang atau Tumenggung Notoprojo, kala itu menjabat Bupati Semarang .

Dari Tepi Sungai, Lahir Sebuah Nama

Atas perintah Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandan Arang berangkat menuju Gunung Jabalakat di Tembayat, Klaten, untuk menyebarkan ajaran Islam. Perjalanan panjang itu memisahkan dirinya dari istri dan anak yang tertinggal jauh di belakang. Ketika sampai di sebuah tempat yang dilintasi sungai, beliau beristirahat di atas batu besar sambil menunggu keluarganya yang tak kunjung tiba .

Karena cemas sekaligus rindu, Ki Ageng bergumam:

“Baya wis lali wong iki…”

Artinya: “Sudah lupakah orang ini?” — apakah keluarganya lupa jalan, atau lupa pada tujuan perjalanan tersebut ?

Ungkapan itu terngiang di telinga warga sekitar. Lambat laun, tempat itu disebut “Baya Wis Lali”, yang kemudian melekat dan berubah menjadi Boyolali .

Bukan dari Kata “Boyo”

Banyak yang mengira nama ini berasal dari kata boyo (buaya). Namun para sejarawan dan pemerintah daerah menegaskan: asal-usulnya justru dari ungkapan perasaan dan pengingat akan tujuan hidup. Hingga kini, batu besar yang diyakini menjadi tempat beristirahat Ki Ageng masih diceritakan berada di kawasan Sunggingan, bahkan ada warga yang menyebutnya “Mbah Dakon” karena permukaannya berlekuk menyerupai papan permainan dakon .

Menjadi Kabupaten, Tetap Menjaga Asal-Usul

Pada 5 Juni 1847, Boyolali resmi ditetapkan sebagai kabupaten berdasarkan Staatsblad 1847 No. 30. Meski telah berkembang menjadi kawasan pertanian dan peternakan sapi perah terbesar di Jawa Tengah, jejak sejarah nama itu tetap dijaga. Setiap peringatan hari jadi, pemerintah daerah menggelar kegiatan Niti Tilas — menelusuri kembali jejak perjalanan Ki Ageng Pandan Arang — agar generasi muda tak melupakan asal-usulnya .

“Nama Boyolali adalah pengingat: jangan sampai kita lupa pada tujuan, lupa pada asal-usul.” — demikian pesan yang disampaikan Bupati Boyolali dalam peringatan hari jadi ke-177 beberapa waktu lalu .

Dari tepi sungai yang sunyi, satu kalimat berubah menjadi identitas yang dijunjung tinggi oleh ratusan ribu warga hingga kini.

Sumber: Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Boyolali, Serat Babad Pengging, dan liputan lapangan Suaralintas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini