Apresiasi untuk Keberanian Kapolri Suyudi Membongkar Kasus Sadap‑Menyadap yang dilakukan Jendral Polisi

0
3
  1. Apresiasi untuk Keberanian Kapolri Suyudi Membongkar Kasus Sadap‑Menyadap yang dilakukan jendral polisi

Suaralintas com.Trimo Setiyadi, Ketua LSM  WGAB (Wadah Generasi Anak Bangsa) Jawa Tengah, menyampaikan apresiasinya kepada Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto atas keberaniannya membongkar kasus dugaan sadap‑menyadap ilegal yang terjadi di lingkungan tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Berdasarkan konferensi pers Bareskrim Polri, tiga perwira tinggi Polri telah ditetapkan sebagai tersangka, yakni Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution, serta Irjen Pol Eko Hadi Santoso.

Bareskrim Polri menyebut secara umum target yang diduga disadap adalah:

1. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto
2. Pejabat Negara / Menteri
3. Tokoh‑tokoh Politik
4. Media / Jurnalis
5. Tokoh ORMAS / LSM
6. Pengusaha

Menurut Trimo Setiyadi, langkah Kapolri Suyudi ini merupakan bukti nyata upaya pembersihan internal yang sudah lama dinanti masyarakat. “Kami sangat mengapresiasi keberanian Pak Kapolri berani membongkar kasus sadap‑menyadap yang melibatkan jenderal‑jenderal tinggi di tubuh Polri. Apalagi targetnya mulai dari Presiden, pejabat, tokoh politik, media, LSM sampai pengusaha. Ini adalah momentum untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian,” ujar Trimo.

Ia menegaskan bahwa pembongkaran kasus tersebut tidak boleh berhenti hanya sampai penetapan tersangka. “Kasus ini sangat serius karena yang diduga disadap bukan orang sembarangan, melainkan Presiden, pejabat negara, tokoh politik, jurnalis, aktivis LSM dan pengusaha. Artinya jika benar terjadi tanpa prosedur sah, ini adalah serangan terhadap demokrasi dan kebebasan berpendapat. Kami minta Bareskrim membuka secara rinci siapa saja nama persis yang disadap, kapan dilakukan, siapa yang memerintah, dan apa tujuan penyadapan itu. Jangan hanya kategori saja yang dirilis,” tegas Trimo.

Ia juga mendesak agar penindakan dilakukan tanpa pandang bulu, termasuk menelusuri siapa dalang yang memerintahkan praktik penyadapan tersebut. “Masyarakat tidak hanya ingin tahu siapa tersangkanya, tetapi juga ingin tahu alasan di balik penyadapan tersebut. Apakah untuk kepentingan penyelidikan atau justru untuk kepentingan politik dan kepentingan pribadi? Semua harus terungkap secara transparan,” ucapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini