Penjilat Hidup Mewah dan Aman di Ketiak Penguasa
( Bagian : 1 )
Oleh : Ngar Bandar
Di tengah jeritan kelas menengah yang tercekik harga dan ketdakpastian, ada sekelompok elit yang terus berpesta. Mereka bukan teknokrat brilian, melainkan para penjilat kekuasaan.
Tanpa rekam jejak maupun kapasitas, mereka melesat menjadi bagian dari oligarki baru. Di ketiak penguasa, mereka hidup mewah, kebal hukum, dan imun dari penderitaan rakyat.
Negara ini ibarat panggung sirkus yang terus berputar, namun komedinya berubah menjadi tragedy bagi rakyat kebanyakan.
Ketika inflansi meroket dan harga bahan pokok mencekik leher, Istana dan Lingkarannya justru menampilkan wajah yang kontras. Disanalah bercokol para penjilat politik, aktor-aktor nir-kapasitas yang menjadikan kedekatan sebagai satu-satunya modal untuk memonopoli kekayaan Negara.
Fenomena ini bukanlah hal baru, namun dalam era konsolidasi kekuasaan saat ini, polanya semakin telanjang dan vulgar. Para penjilat ini tidak perlu bersusah payah membangun karier dari bawah. Cukup dengan menjadi pelahap pujian, penyambung lidah ambisi penguasa, dan algojo bagi para pengkritik, maka pintu menuju rente ekonomi terbuka lebar.
Investasi Kedekatan
Dalam sebuah tatanan pemerintahan yang sehat, jabatan publik didapatkan melalui meritokrasi dan rekam jejak, Namun, ketiak penguasa menawarkan jalan pintas yang lebih pragmatis yakni “Kesetian Buta”.
Para loyalis tanpa kompetensi ini sukses menduduki strtegis, mulai dari komisaris BUMN hingga lembaga penasehat strategis Negara.
Di tangan mereka, kebijakan publik tak lagi berorientasi pada kesejahteraan umum, melainkan alat untuk mengamankan kepentingan kelompok dan kroni.
Ketika kedekatan personal menjadi panglima, nalar kritis disingkirkan dan digantikan dengan pembungkaman yang terstruktur.
Kebal Hukum dan Arogansi Kekayaan
Salah satu ironi terbesar dari rezim penjilat adalah kekebalan absolut yang mereka nikmati. Di saat aparat penegak hukum begitu sigap mempidanakan rakyat kecil yang bersuara sumbang, para kroni penguasa seolah kebal hukum.
Segala bentuk dugaan penyahgunaan wewenang atau praktik korupsi terselubung menguap begitu saja, tertutup oleh sistem perisai kekuasaan yang melindungi mereka.
Kekayaan mereka pun dipamerkan tanpa rasa empati kepada rakyat. Mobil mewah, gaya hidup hedonis, dan aset yang tidak sepadan dengan LHKPN menjadi pemandangan lumrah.
Mereka hidup aman karena berada langsung di bawah sayap pelindung sang penguasa, membuat mereka merasa tak tersentuh oleh hukum maupun moral publik.
Matinya Nalar dan Demokrasi
Menjilat bukanlah sekadar soal memuji; ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap tujuan bernegara. Ketika eksekutif dikelilingi oleh orang-orang yang hanya ingin mendengarkan halhal indah, (ABS: Asal Bapak Senang), mekanisme check and balance mati suri.
Kritik yang sejatinya merupakan obat penawar bagi pemerintahan yang sehat justru dianggap sebagai makar dan ancaman.
Ruang publik yang seharusnya menjadi arena adu gagasan, berubah menjadi kuburan bagi kebebasan berekspresi. Situasi ini jelas menjadi sinyal bahaya bagi masa depan bangsa. Kekuasaan yang tidak dikontrol dengan nalar kritis akan mengarah pada tirani dan kehancuran institusi.
Pada akhirnya sejarah telah membuktikan bahwa kemewahan yang dibangun diatas penderitaan rakyat dan penjilatan tidak akan pernah abadi. Gelombang kekecewaan publik, meskipun sering kali dibungkam, adalah bara yang menanti waktu untuk membakar tatanan yang busuk.
Para penjilat boleh merasa nyaman di ketiak penguasa saat ini, namun cepat atau lambat, pengadilan sejarah dan nurani rakyat akan menagih harga dari pengkhianatan mereka terhadap cita-cita bangsa.
Politik Balas Budi
Rakyat dipaksa bayar pajak tinggi. Rakyat dicekik kenaikan harga barang. Di sisi lain lain, para penjilat di lingkaran mantan Presiden Jokowi justru pesta pora. Mereka bergelimang harta dan pamer kedudukan. Dan jangan salah kaprah, penjilat penguasa bukan sekadar urusan moral yang bejat, melainkan bentuk korupsi yang nyata. Mereka menukar sanjungan palsu dengan uang Negara.
Di era ini, kompetensi tidak berguna. Rekam jejak dibuang ke tong sampah. Indikator utama untuk naik jabatan hanya satu : “Kepatuan Buta Kepada Penguasa”.
Kesimpulan
Negara ini sedang sekarat karena terlalu banyak menoleransi para penjilat dan pengkhinat bangsa berkedok penasihat setia. Kenyamanan mewah yang dinikmati para penjilat hari ini adalah hasil dari penjarahan hak-hak publik yang disahkan lewat kebijakan korup.
Membiarkan mereka terus bercokol dilingkaran kekuasaan sama saja dengan ikut serta merancang kehancuran masa depan bangsa ini.
Masyarakat sipil tidak boleh lagi terbuai oleh narasi kosmetik dan polesan citra buatan di media sosial. Sudah saatnya rakyat membangun perlawanan intelektual yang radikal untuk meruntuhkan tembok feodalisme penjilatan ini.
Rakyat harus menuntut transparansi total dan menyeret para parasit politik ini keluar dari zona nyaman mereka. Demokrasi membutuhkan martir yang berani meneriakkan kebenaran dengan lantang di depan muka penguasa, bukan gerombolan pemandu sorak yang bertepuk tangan di atas kebangkrutan moral bangsa.

