Tegakkan toleransi iman FKUB Klaten adakan ritual

0
43

Tegaskan Toleransi Lintas Iman, FKUB Klaten Gelar Ritual 7 Mata Air Suci Dan Angkat Isu Kritis Pemanfaatan Air

KLATEN – suaralintas.com – Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB) Kebersamaan Kabupaten Klaten merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 sekaligus memperingati Hari Toleransi Internasional (16 November) dengan menyelenggarakan acara bertema “Kamulyaning Tirta” (Kemuliaan di Air). Sabtu (15/11/2025)

Acara yang mengambil subtema “Tirta Panguripan, Rukun Kang Nguripi” (Air Kehidupan, Kerukunan yang Menghidupkan) ini menekankan kembali pentingnya persatuan di tengah keberagaman dan membawa pesan kritik sosial mendalam mengenai pemanfaatan sumber daya air.

Ritual Lintas Iman di Vihara Bodhivamsa

Sebagai puncak rangkaian kegiatan, FKUB menggelar ritual adat pengambilan Tirta Panguripan (air suci/air kehidupan) dari tujuh mata air suci yang tersebar di wilayah Klaten. Pengambilan air ini dilakukan secara simbolis oleh perwakilan pemuka agama dari berbagai unsur agama dan penghayat kepercayaan.

Air suci tersebut kemudian disatukan dan didoakan bersama dalam sebuah doa lintas iman yang diselenggarakan di Vihara Bodhivamsa, Klaten. Kegiatan ini melibatkan seluruh elemen lintas iman, Kemenag, akademisi, dan dihadiri langsung oleh Bupati Klaten : Hamenang Fajar Ismoyo, S.IKom.

Air sebagai Metafora Universal Persatuan

Pdt. Wahyu Nirmala, S.Si., M.Si. menjelaskan, tema “Kamulyaning Tirta” diangkat dengan makna yang dalam mengenai toleransi. Air, menurutnya, adalah simbol universal yang tidak bersekat, dibutuhkan oleh semua orang, dan berfungsi untuk sesama.

“Perbedaan agama ini seharusnya bisa memberkati mereka yang berbeda keyakinan, bukan memecah belah. Kami ingin Klaten ini seperti air, dimanfaatkan, digunakan, dan berfungsi untuk sesama,” jelas Pdt. Wahyu Nirmala.

Lebih lanjut, dalam pidato yang disampaikan oleh pejabat setempat saat Halal Bihalal dan HUT ke-27 FKUB, Klaten dipuji sebagai daerah yang Adem Ayem dan Bersinar berkat toleransi yang tidak hanya dijaga, tetapi sudah berkolaborasi membantu Pemda mengatasi masalah kesejahteraan seperti stunting dan kemiskinan.

Hamenang Fajar Ismoyo, Menjelaskan Candi Plaosan sebagai bukti historis akulturasi kuno antara Hindu (Rakai Pikatan) dan Buddha (Dia Pramodawardhani), menegaskan bahwa semangat toleransi di Klaten telah mengakar sejak lama.

Pesan Kritis: Menggugat Pemanfaatan Air Komersial

Selain pesan toleransi, kegiatan ini juga membawa isu kritis terkait etika pemanfaatan sumber daya air. Narasumber membenarkan bahwa “Kamulyaning Tirta” mengandung kritik sosial terhadap adanya air yang dipakai hanya untuk kepentingan sendiri.

Kekhawatiran diungkapkan terhadap praktik pengeboran air yang kemudian digunakan untuk kolam renang pribadi atau dikomersilkan. Pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya menjaga sumber daya air agar tetap menjadi milik bersama dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat, sesuai dengan fungsi dasarnya sebagai Tirta Panguripan (Air Kehidupan).

( WIWIT )

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini