NASIB PILU MURSID MULYOTO BERWASIAT SESUAI PEMAKAMAN DITOLAK KADES (Bagian 4)

0
345
Foto lokasi TPU Desa Ngesrep Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali dan makam orang tua Mursid yg kijing berwarna biru

Perjalanan hidup adalah sebuah nasib yang tak bisa ditolak, dan harus diterima dengan ikhlas jika memang itu sudah suratan ketentuan, Mursid harus bernasib menjadi seorang Mursyid. Garis hidupnya terukir harum dan mulia pada nama yang disandangnya. Akhlak mulia telah melekat dalam dirinya sebagaimana akhlak seseorang yang menyandang jati diri sebagai Mursyid, yakni lemah lembut, jujur, rendah hati, tawakkal, ramah, sabar, dermawan, amanah, bersyukur dan lain sebagainya. 

Disisi lain seorang Mursyid juga tidak boleh berlebihan mencintai harta, kedudukan serta jabatan dunia. Ia harus memurnikan hati dengan menyedikitkan makan, berbicara, tidur dan memperbanyak ibadah agar terjauhkan dari sifat tercela, iri, dengki, tamak, kikir, sombong, hasud dan lain-lainnya. Yang jelas seorang Mursyid hanya mengerahkan semua kecintaannya kepada Alloh semata. 

Memang tidaklah mudah menjadi seorang Mursyid, namun kenyataan tersebut telah dijalani Mursid sejak usia remaja, mungkin sudah suratan takdir. Tentu, tidaklah mubazir kedua orang tuanya, yakni Bapak R.Martomo dan Ibu Tuti Sugiarti memberi nama untuknya Mursid Mulyoto. Sebab kata Mursid mengandung pengertian membimbing dan menunjukkan jalan yang benar kepada seseorang agar tidak tersesat. Sedang Mulyoto bermakna mulia, terhormat, bermartabat, dan memiliki kesabaran dalam menghadapi berbagai rintangan hidup yang cenderung mengarah pada perilaku atau sifat berbudi luhur dan berhati mulia. Bila dijabarkan maka Mursid Mulyoto mengandung makna seorang pendidik religious yang berhati dan berbudi mulia tanpa pamrih sedikitpun terhadap imbalan dunia, melainkan semata-mata dikerjakan karena Lillahitaallah.

Bagi orang tua Mursid memilih nama untuk anaknya demikian tentu terkandung dan terselip harapan dan doa tersendiri terhadap masa depan hidup anaknya. Memang harus diakui, pemberian nama anak oleh orang tua adalah mengandung doa dan harapan masa depan anak. Harapan orang tua terhadap anaknya tidak selalu merupakan bentuk kesuksesan harta benda dunia, melainkan juga kebahagiaan hidup diakheratnya. Orang tua juga tidak selalu mengharapkan pemberian harta benda atas kesuksesan anaknya, melainkan harapannya agar sang anak selalu mendoakan dengan tulus dan ikhlas setelah orang tua tiada. 

Meski orang tua memiliki harapan baik kepada anaknya, kadang hal itu tidak terungkapkan secara lahiriah. Dalam lubuk hati orang tua terkadang tak mampu mengucapkan satu patah kata apapun selain doa yang tak henti-hentinya dipanjatkan untuk anaknya. Selagi masih bisa, orang tua tetap meluangkan, pikiran, jiwa, hati dan rasa tetap mendoakan dan mengasihi anak-anaknya. Orang tua yakin bahwa pemberian nama untuk anaknya dapat membantu meniti masa depan yang lebih baik bagi sang  anak. Ungkapan kasih sayang dan cinta orang tua tak hanya di mulut saja, dalam hati lubuk yang terdalam pun sangat mencintai anaknya meskipun anak menjadi orang yang tidak sesuai yang diharapkan

Mursid faham dan tau benar makna nama yang melekat pada dirinya. Karena dia menyadari, bahwa nama pemberian orang tuanya adalah mengandung harapan kepada hidup dirinya sekaligus orang tuanya. Maka ia berusaha tidak mengabaikan dan mengecewakan harapan orang tuanya.

Selain itu Mursid juga menyadari, pertimbangan lain mengapa orang tuanya memberi nama demikian, sebab ada keidentikan dengan posisi orang tuanya, yakni Bapak R. Martomo adalah seorang Pendidik di STM 2 Surakarta, juga pernah menjadi Kepala Sekolah STN I di Kabupaten Sukoharjo serta pendiri sekaligus menjadi Kepala Sekolah yang pertama di STM Bina  Patria Sukoharjo ( sekarang SMK Bina Patria I  Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah), sedang Ibunya adalah  seorang perawat pada masa perjuangan meraih kemerdekaan hingga merdeka.

Sejak kecil Mursid rajin dan tekun belajar agama dari sejumlah Ustadz, hingga remaja bergabung di Remaja Islam Masjid Fadlillah Mubarokah. Selama bergabung di Muda Mudi Islam, ia tidak hanya mengajarkan ilmu yang ia miliki pada anak-anak saja, namun tetap aktif menimba ilmu keagamaan. Selain menekuni dunia religius, Mursid juga terjun didunia teater dan seni lukis. Di Dunia teater dia bergabung di teater Gidag Gidig, sedang di seni lukis dia ikut  di  BKSR Bengkel Kerja Seni Rupa Tradisi ASKI Surakarta. Meski hasil karya seni lukisnya tidak bisa menjadi penopang hidupnya, bukan berarti dia harus berhenti berkarya.  Kini hasil karya lukisannya masih tersimpan meskipun sebagian ada diberikan kepada teman-temannya.

Mursid Mulyoto lahir pada hari sabtu pahing 9 Juli 1966 di Manahan Surakarta, dan menyelesaikan pendidikan di SDN Manahan I No.47 Surakarta tahun 1979,  SMPN 15 Surakarta tahun 1982 dan STM Negeri I Surakarta 1985.

Kendati sudah berumah tangga dengan tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari, Mursid tetap tekun belajar agama pada orang yang dianggap ahli . Ia tidak hanya menekuni ilmu syareat saja, melainkan juga belajar ilmu tarekat dan hakikat. Bahkan Mursid tidak hanya berguru ilmu agama di negerinya saja, melainkan selama bekerja di Dubai kesempatan tersebut tak dilewatkan untuk berguru ilmu tarekat dan hakikat pada seorang syekh. Hingga akhir hidupnya, harapan orang tuanya tak dikecewakan semua demi membahagiakan orang tua. Meskipun ia sendiri harus menerima kenyataan yang menyedihkan, karena apa yang menjadi wasiatnya sebelum menghembuskan nafas terakhir tak terpenuhi. (Redaksi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini