
Akhir hidup Mursid Mulyoto (59) memang mengenaskan dan penuh kegetiran, ia hidup dan meninggal pada kamis kliwon sore 3 april 2025 dalam keadaan miskin dan tidak memiliki apa-apa, selain sejumlah hasil karya lukisannya dan tanaman-tanaman bunga yang berserakan di halaman rumah milik saudara kandungnya yang ia huni seorang diri.
Kesulitan dan kesedihan yang dialaminya, tidak hanya pada saat mengarungi kehidupan sehari hari didunia ini, saat kematian pun, mau mencari tempat peristirahatan terakhirnya harus ditempa kesulitan, karena Mursid bukanlah sosok orang yang ternama. Beda jauh dengan orang yang ternama atau memiliki jabatan dan kekuasaan, ketika kematiannya banyak disanjung-sanjung, dipuja-puja, dielu-elukan, dimewah-mewahkan dengan berbagai acara dan upacara yang sangat megah dan berlebihan. Bahkan tak henti-hentinya diperbincangkan dan ditayangkan di sejumlah media baik elektronik maupun cetak, seolah-olah bagaikan manusia yang paling baik dan mulia. Padahal dimata Tuhan seremonial demikian itu tidak berarti apa-apa, kecuali sebuah ketaqwaan dan amal kebajikan, bukan amal kedurhakaan, kedustaan dan kebohongan saat berkuasa. Sebagaimana firman Allah : “Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa”, “Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik baiknya makhluk”, “Kemudian kamu akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang megah di dunia”, “Dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan”, “Kemudian kami kembalikan yang serendah-rendahnya”.
Mursid hanyalah sosok nestapa, hidup sendiri numpang di rumah saudaranya. Saat sakit, dan dirawat di rumah sakit anak-anaknya pun tidak pernah menjenguk, meskipun dikabari, dengan alasan berbagai hal.
Kesedihan bercampur kecewa dialami keluarga Wulan Ngarianto kakak Mursid, Ditengah kesedihan kehilangan adiknya, ia harus bersusah payah mencari makam lain. Padahal ia juga tinggal di desa tersebut sejak tahun 1987, di Perumahan Panasan Baru Desa Ngesrep Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Selain itu, Mursid sewaktu sakit juga dibawa dan dirawat di rumah tersebut, dan warga juga sudah banyak yang mengenal Mursid. Apalagi Mursid sering ziarah ke kubur tersebut hampir setiap jumat.
Nasib Mursid memang malang, hidup susah, matipun mau dikubur susah, padahal hanya butuh secuil tanah kuburan desa yang masih banyak kosong penghuninya. Dan setiap orang yang meninggal sewajarnya mendapat tempat peristirahatan terakhir yang layak, namun privilese itu tak mudah didapat bagi orang-orang sederajat Mursid Mulyoto.
Sungguh ironis, di Negeri yang merdeka hampir seabad lamanya dan memiliki kesamaan hak, tidak memberi tempat secuilpun tanah untuk mengubur orang seperti Mursid.
Penolakan Kades tersebut disampaikan langsung kepada Dwi Prasetyo Atmojo salah seorang warga Panasan Baru Desa Ngesrep yang dimintai tolong oleh keluarga Wulan Ngarianto untuk mengajukan permohonan izin pemakaman, mengingat keluarga baru mengurusi jenazah Mursid Mulyoto yang meninggal di rumah sakit Panti Waluyo Solo.
Semula, Keluarga meminta bantuan pada tetangganya bernama Dwi Prasetyo Atmojo untuk mengajukan permohonan ijin pemakaman Mursid yang wafat, untuk dikubur di TPU Desa melalui Kepala Desa Ngesrep Joko Widodo, karena baru mengurus jenasah adiknya yang meninggal di rumah sakit Panti Waluyo Solo. Setelah ketemu Kepala Desa, Dwi pun menyampaikan maksud kedatangannya, namun Kepala Desa tidak memberi jawaban yang pasti, dengan alasan perlu dimusyawarahkan warga dan lain-lainya, karena ada peraturan baru. Pada intinya Kades menolak. Saat itu pula, Dwi langsung memberi kabar via ponsel, jika permohonan tidak dikabulkan dan harus mencari tempat pemakaman lain. (Redaksi)
