Zaman telah berubah, di zaman ini sang penegak kebenaran pun berubah, berbalik menjadi penegak kekuasaan. Kebenaran dan keadilan pun di takar dari timbangan kekuasaan. Apa yang dikatakan benar dan adil harus sesuai takaran penguasa. Kedaulatan pun berbalik, mutlak ditangan kekuasaan.
Di Zaman ini tidak ada yang lebih berharga sebagai manusia kecuali menjadi manusia yang bak kekuasaan, bukan sebagai manusia yang bebas tapi tidak memiliki kekuasaan. Manusia di zaman ini, bisa bebas dan bisa tidak bebas. Sebab manusia di zaman ini bisa ditindas hidupnya, meskipun kebebasannya tidak bisa ditindas. Zaman demikian ini dimaknai sebagai Zaman Kebohongan
Selain Zaman Kebohongan, zaman ini juga disebut sebagai Zaman Dobolisme, yang mana manusia sudah tidak dapat lagi dipercaya, baik perbuatannya, perkataannya maupun tindakannya. Manusia dianggap telah gagal mempertahankan secercah kejujuran. Akibatnya manusia sudah tidak dapat dipercaya lagi mengatur pemerintahan.
Dan setelah itu terserah Sang Khaliq, apa mau menghancurkan zaman ini, ataukah mengatur kembali melalui orang-orang pilihannya, dengan cara Nya pula. Bukan melalui pilihan manusia yang sudah terbukti salah pilih dan gagal dipercaya.
Di zaman ini, khususnya di negeri ini, telah nyata terbukti bahwa semua tatanan dan sendi kehidupan sudah serba rusak, bubrah dan tak tentu arah. Semua itu tidak lepas dari sepak terjang dajjal yang selalu sukses dalam menjerumuskan manusia. Dengan membangkitkan nafsu kebinatangan, keserakahan, kerakusan, dan lain-lainnya. Manusia mudah digoda, digiring dan dijerumuskan ke arah zaman ini.
Tanpa sadar, kehidupan berbangsa di negeri ini telah terperosok jauh ke dalam zaman ini. Di negara ini pula kerusakan, sudah sampai pada taraf kebiasaan berpikir, berperilaku, dan berbicara, akibatnya jauh lebih parah dibandingkan dengan negeri tetangga.
Di zaman ini dajjal amat berperan, sehingga Firman Allah atau rencana Allah yang pasti kebenarannya jadi rusak, termasuk rencana menyelamatkan umat manusia. Di zaman ini, apa saja yang buruk, yang salah , yang dilarang, yang dilaknat, yang menyengsarakan, justru itu dilakukan.
Sebaliknya yang luhur, benar, dan dikehendaki Allah, malah ditentang, tanpa rasa bersalah seperti orang tidak bernalar.
Di Zaman ini, semua yang buruk tersedia, dan disediakan dengan bebas dan mudah, bahkan bisa dianggap sah sesuai aturan, dengan mengalahkan aturan Ilahi. Namun yang sadar akan tetap berpegang pada aturan Ilahi, meski dengan resiko hidup tinggi, karena tidak mengikuti jejak zaman ini.
Memang manusia yang sadar akan kebenaran khususnya kebenaran Ilahi, tidak akan tergiur oleh apa yang didapat dari para pengikut zaman ini. Namun, alangkah bijaknya di zaman ini, jika masih ada manusia yang berani mengambil resiko besar dengan mempertahankan nilai-nilai demokrasi yang sudah dipegangnya. Dan sudah semestinya jika kita tidak setuju atau kalau ada manusia yang harus menghilangkan dan mengorbankan idealismenya hanya karena faktor politis ekonomi dan birokrasi kekuasaan, sungguh sangat disesalkan dan menyedihkan sekali. Sebab Rakyat di zaman ini menginginkan munculnya sosok manusia yang berani mengorbankan segalanya demi tegaknya kebenaran dan keadilan, bukan orang-orang yang membebek dan penjilat kekuasaan.
Dalam prosesnya figur penegak kebenaran dan keadilan itu berprinsip senantiasa peduli terhadap apa yang dirasakan rakyat, dan selalu bersikap kritis baik terhadap kondisi masyarakat tersebut atau terhadap dirinya sendiri.
Sikap kritis ini harus dimaknai sebagai bentuk kemauan dan kemampuan untuk berhadapan dengan tata nilai, dengan menjaga posisinya sebagai penegak kebenaran dan keadilan. Sebab dalam sikap kejujuran banyak diuji oleh aspek politis ekonomi dan birokrasi kekuasaan.
Begitu kuatnya peran rezim penguasa di zaman kebohongan ini dalam berbagai segi kehidupan. Hal ini merupakan kondisi yang paling sulit bagi gerakan penegak kebenaran, karena penguasa memiliki posisi sentral dominan dalam melaksanakan kehendaknya.
Rezim Penguasa cenderung semakin kuat dan memiliki segalanya, sedang rakyat semakin tak berdaya, maka wajar jika rakyat berharap muncul sosok penegak kebenaran. Sosok penegak kebenaran ini memiliki kebebasan internal dan eksternal.
Kebebasan internal adalah kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri, sedang eksternal adalah bebas dari segala tekanan dalam mengambil tindakan. Untuk kebebasan ini sosok penegak kebenaran sudah barang tentu memiliki potensi untuk membedakan dirinya dengan orang biasa. Dapat digambarkan posisinya senantiasa tidak committed dengan kepentingan lain diluar kebenaran menyuarakan suara hati masyarakat yang berorientasi masalah suara rakyat banyak.
Ekspresinya tidak memerlukan wadah, dan wadah hanya sebatas berinteraksi sejauh tidak partisan, yang penting tercipta pengabdian diri secara ikhlas dan tidak mendukung lestarinya zaman dobolisme, melainkan terciptanya zaman kemuliaan. (Bersambung)
Oleh : Ngar.
