Seorang psikolog Amerika Serikat George . E . Vaillant menyatakan bahwa untuk mewujudkan anak bahagi adalah mengajari bekerja anak itu sedini mungkin, maksudnya pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan anak bukan mengerjakan pekerjaan yang bersifat merugikan diri anak, melainkan dilatih selangkah demi selangkah disesuaikan dengan usia dan kemampuannya. Dengan kata lain anak tidak diberi pekerjaan yang sulit untuk dikerjakan. Hal demikian itu dimaksudkan agar setelah dewasa anak punya rasa tanggung jawab dan mandiri serta berarti.
Anak yang didik dengan tanggung jawab dan mandiri menuju bahagia akan lebih dewasa bila dibandingkan anak-anak lain yang sebaya dengannya, bukan kedewasaan dalam arti yang tertekan atau dipaksakan melainkan kedewasaan karena berjalan wajar. Sebab anak tersebut sangat kreatif, selain bisa membagi waktu juga sangat menghargai pendapat dan keadaan orang lain.
Banyak orang tua mengira bahwa seorang anak bahagia apabila segala keinginan dan permintaannya terpenuhi, dan anak tidak perlu diberi tugas selain bermain, maka tak heran jika anak yang demikian itu sulit bisa mandiri dan bertanggungjawab terhadap terhadap dirinya sendiri.
Kita menyadari bahwa kehidupan manusia sejak turun temurun, pendidikan anak merupakan hal yang utama dan Paling menjadi perhatian berbagai pihak. Sebab tumbuh dan berkembangnya anak sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama kondisi zaman.
Karakter atau kepribadian anak terbentuk oleh sejumlah faktor-faktor tersebut yang memiliki perilaku berlian tergantung dari proses pendidikan yang diterimanya atau diperolehnya. Umpanya jika cara mendidik yang kita terapkan sesuai pengalaman sewaktu mendapat pendidikan keras dari orang tua maka yang terjadi biasanya anak akan bersikap yang sama pula, jika cara yang demikian itu dianggap atau dinilai baik dan benar.
Pendidik atau orang tua sering kali tidak menyadari akan akibat sampingan dari pendidikan yang otoriter atau keras. Pada hal sikap yang demikian itu bisa menyebabkan anak kurang berinisiatif, tidak bisa mandiri dan biasanya mengalami kesulitan mengatasi problemanya sendiri. Meskipun di satu sisi anak menjadi patuh, sopan dan taat terhadap norma-norma yang ada. Tapi tak diketahui di balik semua itu yang tersembunyi di dalam benaknya (anak). Kemungkinan anak mengalami kebingungan jika berhadapan dengan hal-hal yang dianggap baru atau asing di luar pengalamannya, sebab anak mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan.
Tidak hanya pendidikan yang bersifat otoriter saja yang mempunyai dampak negatif, tetapi pendidikan yang bercorak terlalu demokratis atau pembiaran yang berlebihan juga berakibat tidak baik. Biasanya dampak dari pendidikan yang demikian ini anak cenderung menjadi kurang ajar , mengabaikan norma-norma yang ada, sukar diatur , maunya menang sendiri dan kurang memiliki rasa tanggung jawab. Semua yang demikian itu sangat merugikan anak baik dalam penyesuaian diri di sekolah, lingkungan maupun keluarga.
Untuk itu pendidik atau orang tua harus cermat, mencoba memahami keinginan atau pendapat anak, sebab anak yang bahagia adalah anak yang mandiri dan merasa dihargai oleh orang tua atau pendidik baik menyangkut pendapatnya maupun hasil karyanya. Untuk itu pendidik atau orang tua harus memberi anak kebebasan mengembangkan dirinya. Dan jangan sedikit sedikit dilarang dan ditakut-takuti.
Kalaupun pendidik harus bersikap otoriter, hal itu tidak ditujukan untuk mematikan inisiatif anak melainkan justru untuk membantu pembentukan sikap percaya diri . Dalam arti pendidikan otoriter diperlukan bila anak kebingungan tidak memiliki pedoman atau prinsip yang dijadikan pegangan.
Pendidikan otoriter bukan berarti menerapkan dan menempatkan suatu ide atau pendapat –pendapat yang kaku melainkan untuk membuat anak percaya bahwa orang tua sebagai pendidik lebih mempunyai kewenangan pada bidang atau masalah yang belum dimiliki oleh anak.
Begitupun sikap teratur yang ditanamkan pada anak bukan didasarkan rasa takut akan hukuman melainkan demi kehendak atau kesenangan dan pilihan anak itu sendiri. Dengan kata lain cara hidup teratur yang dipilih itu sebenarnya merupakan kebutuhannya sendiri
Enoch Marhum dalam bukunya Anak, Keluarga, dan Masyarakat mengatakan bahwa cara hidup teratur ditanamkan pada anak hendaklah dirasakan kegunaannya oleh anak. Anak hendaklah menyadari bahwa ia tidak teratur, maka ia akan menderita. Misalnya: Makan tidak teratur bisa sakit, tidur tidak teratur bisa sakit kepala.
Dengan adanya keseimbangan antara pemberian kebebasan disatu pihak dan sikap otoriter dalam hal-hal tertentu, maka tidak akan tercipta tipe anak yang patuh, tahu sopan santun namun sangat bertanggungjawab dalam menghadapi hal-hal yang baru karena muncul percaya diri yang mandiri.
Memang anak yang selalu di manja dan keinginannya serba dilayani dan juga anak yang selalu dilindungi, bisa besar kemungkinan akan menjadikan anak memiliki tipe ragu-ragu dan tidak berani mandiri dan sangat bergantung pada pihak lain serta cepat putus asa.
Begitu pula, selalu mengkhawatirkan anak dan serba tidak memperbolehkan melakukan kegiatan diluar rumah juga banyak merugikan anak. Di samping hilangnya latihan untuk mandiri ,juga pengalaman sangat terbatas. Selain sikap mandiri kebanyakan orang tua selaku pendidik mengharapkan anaknya mempunyai rasa tanggung jawab
Dalam buku Bimbingan Perkembangan Anak karya Dewa Ketut Sukardi di jelaskan bahwa anak yang hidup di tengah-tengah kecam dan kritik memiliki rasa tanggung jawab. Ini berarti bahwa anak belajar meragukan kemampuannya sendiri dan mencurigai itikad dan maksud-maksud orang lain. Lebih parah lagi anak akan dihantui kecemasan setiap saat dan tertimpa hantaman yang menghancurkan.
Menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak perlu adanya tenggang rasa orang tua selaku pendidik, sebab rasa tanggung jawab bukanlah bawaan sejak lahir melainkan diperoleh dengan cara perlahan-lahan. Dan anak belajar tanggung jawab jika diberi kesempatan untuk menilai dan memilih sendiri hal-hal yang menyangkut dirinya. Tentu saja hal itu tergantung kemampuan daya tangkapnya.
Pendidikan tanggung jawab yang membahagiakan anak harus dimulai sejak dini yakni sejak anak masih kecil. Mulanya melatih anak bekerja pertama-tama yang harus diperhatikan adalah bukti nyata dari buah pekerjaan anak. Dengan kata lain anak diberi pekerjaan yang sepele tidak apa-apa yang penting bisa mengerjakan dan ada hasilnya. Contoh mencuci piring, anak diajak ke toko buku untuk memilih buku yang disukai. Maka anak akan merasa berarti dan dianggap berguna ikut berperan dan tidak hanya figuran saja.
Anak adalah anak sekalipun trampil tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Jangan dulu disalahkan biarkan kreatif dan diberi advis saat anak bekerja. Diamkan dulu saja saat mereka mengatasi problemnya, jauhkan omelan biar jiwa mereka tidak tertekan. Arahkan pengaturan waktu tapi jangan jajah mereka biar kreatif, dan hanya diarahkan saja.
Jika anak diberi kesempatan mengerti kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuannya sendiri maka ia akan mulai menerima tanggung jawab atas hidupnya sendiri dengan segala tuntutannya. Tindakan yang demikian itu beralasan baik atas dasar pengalaman pahit yang baru dialami anak maupun dalam tahap-tahap perkembangan kepribadian anak. Untuk menambah hubungan pendidik yang berbasis pada anak mandiri dan bertanggung jawab menuju bahagia maka pendidik harus mampu memotivasi anak untuk percaya diri atau membangun kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Dengan demikian anak bisa mampu mengoptimalisasi kreativitasnya. Tanpa kreativitas yang memadai anak hanya akan menjadi datar nama tertulis yang panjang seperti keadaan negeri kita sekarang ini. Besar dari jumlah penduduknya tetapi ia bukan asset melainkan menjadi beban nasional.
Oleh : Ngar.
